Compiled vs Interpreted

Artikel pertama saya tentang teknologi. Tidak perlu yang ribet. Semoga bermanfaat. Kalau ada kekeliruan silakan dikoreksi.

Jadi begini. Ketika kita membuat program, kita menuliskannya dalam bahasa yang dipahami manusia. Bukan, bukan bahasa Indonesia, Sunda, apalagi bahasa gaul. Tapi kalau bahasa Jawa boleh sih.

Contoh bahasa yang digunakan manusia dalam membuat program antara lain Pascal, C, C++, Python, PHP, Java, dan sebagainya. Bahasa-bahasa ini pada hakekatnya tidak dipahami oleh komputer. Agar komputer dapat memahaminya maka bahasa pemrograman tersebut perlu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami oleh komputer (misalnya bahasa mesin).

Nah proses menerjemahkan ini ada dua macam. Interpret dan Compile. Interpret adalah proses menerjemahkan source code on the fly (saat program dieksekusi). Sementara Compile adalah proses menerjemahkan sebelum program dieksekusi.

Contoh bahasa pemrograman yang diterjemahkan dengan proses compile antara lain C++ dan Java. Sementara bahasa pemrograman yang diterjemahkan dengan proses interpret antara lain Python dan PHP.

screenshot from 2019-01-14 07-48-53
Cuplikan Layar dari Artikel Rujukan
Advertisements

Aroma Karsa

Sebuah novel karya Bu Dewi Lestari. Tidak termasuk ke dalam Supernova universe. Namun begitu saya merasa novel ini bisa saja menjadi bagian dari universe tersebut karena setipe.

Ini merupakan novel epik atau mungkin novel dengan genre action. Bercerita tentang petualangan mencari tanaman sakti Puspa Karsa. Drama dalam novel ini porsinya tidak terlalu banyak. Padahal saya pribadi lebih suka tulisan Dee yang romantis dan puitis.

Terlepas dari genrenya yang bukan favorit saya, namun novel ini tetap mudah untuk dinikmati. Dee selalu bisa membuat tulisan yang setiap kata dan kalimatnya mengalir. Sehingga meskipun tebalnya sekitar tujuh ratusan halaman saya tetap bisa membaca tanpa merasa bosan.

2f54b713-1ab1-4b6d-809e-2351b034165e_169
Gambar diambil dari detik hot

Menurut saya pribadi, novel yang begini yang sebetulnya menarik untuk difilmkan. Karena genrenya action, ketika difilmkan saya rasa novel ini tidak akan terasa seperti sinetron atau ftv. Paling tidak ini mungkin akan seperti Angling Dharma begitu.

Satu hal lagi yang saya salut dari novel ini adalah riset yang dilakukan oleh penulis. Saya rasa risetnya serius dan cukup ngemodal. Sehingga bagi saya yang awam tentang wewangian bisa percaya dengan detail dalam cerita ini.

Akhir kata bila Anda penggemar novel petualangan atau pembaca setia Dee, sempatkan waktu buat baca novel ini. Tadinya saya mau sok memberi rating terhadap buku ini, tapi tak usah lah ya. Adios!

Football is Life

Kalau ditanya apakah saya suka berolahraga? Mungkin saya akan jawab tidak. Kalau ditanya hobinya apa? Saya akan jawab sepak bola. Iya saya tidak terlalu suka olah raga, namun saya begitu menyukai sepak bola.

Saya lupa sejak kapan saya mulai suka dengan sepak bola. Mungkin sejak kelas dua atau empat SD. Yang jelas kecintaan saya pada sepak bola tidak terjadi secara instan.

Saya ingat dulu ada masa ketika saya benci sekali kalau hari minggu diajak pergi ke lapangan karena itu artinya saya harus melewatkan satu episode doraemon yang sudah saya nantikan selama seminggu.

Awal datang ke lapangan saya tidak langsung bermain bola. Saya malah lebih suka mencari keyeup (sejenis kepiting kecil) atau mengecat rambut menjadi merah dengan biji buah apalah itu yang ada di sekitar lapangan.

Waktu berlalu, saya mulai main bola di pinggir lapangan bersama anak lain, sementara orang dewasa main di lapangan utama. Saya ingat ketika bola hasil dari tendangan orang dewasa menghujam ulu hati saya. Seketika tidak bisa bernafas, rasanya mau pingsan.

Betapa bermain sepak bola awalnya sungguh tidak menyenangkan. Tapi hari ini, ketika usia saya sudah lebih dekat ke tiga puluh dibanding ke dua puluh. Ketika saya bahkan sudah menjadi bapak. Setiap hari minggu adalah hari yang baik untuk bermain sepak bola. Sebuah rutinitas yang saya lakukan mungkin sudah belasan tahun lamanya. Football is life.

Mantra-Mantra Kunto Aji

Sebuah album dari penyanyi Kunto Aji. Saya nggak tahu kenapa albumnya diberi judul Mantra Mantra. Mungkin karena lagu pertama dan terakhir isinya mantra-mantra atau bahkan semua lagunya itu adalah mantra-mantra. Mantra untuk mengusir kesedihan, kekecewaan, dan keresahan. Mantra untuk menerima kenyataan dan menjadi dewasa. Entahlah.

Berdasarkan saran seorang teman, mendengarkan album ini akan lebih baik jika berurutan dari lagu pertama sampai dengan terakhir. Saya pun mengikuti sarannya. Kurang lebih 30-40 menit saya mendengarkan Mas Kunto bercerita lewat nyanyiannya.

Kunto-Aji-Mantra-Mantra
Cover Album Mantra Mantra diambil dari news.genmusik.com

Buat saya pribadi lagu yang paling berkesan adalah Jakarta Jakarta. Di lagu itu dia bilang bahwa Jakarta adalah kota yang membuatnya tegak berdiri dan juga kota membuatnya merasa sepi. Oh yes, I feel that too.

Selain Jakarta Jakarta, lagu Saudade juga cukup nyangkut di kepala saya. Meskipun saya tidak paham apa artinya Saudade.

Secara umum semua lagunya enak dan relatable. Setiap lagu di album ini saya rasa begitu personal. Sehingga orang yang mendengar bisa jadi akan punya lagu favorit yang berbeda-beda tergantung dengan pengalaman hidup masing-masing.

Teman yang Baik

Saya selalu ingin bisa menjadi teman yang baik. Meskipun saya tidak pandai bergaul dan mempunyai banyak teman. Jika ditanya tentang definisi teman yang baik, jujur saya juga bingung.

Di kepala saya teman yang baik adalah yang selalu ada dan bisa membantu ketika kawannya kesusahan. Teman yang baik adalah yang bisa membuat temannya itu tumbuh menjadi orang yang lebih baik. Paling tidak dua hal itu yang terpikirkan oleh saya tentang seperti apa teman yang baik.

Menjadi teman yang baik ternyata tidak semudah kedengarannya. Tak jarang niat kita untuk menjadi teman yang mampu mebuat temannya tumbuh menjadi orang yang lebih baik justru malah berbuah keterpurukan.

Dalam hal lain ketika kita ingin menolong teman yang dalam kesulitan, perbuatan kita malah membuat situasi semakin runyam. Dan masih ada lagi contoh lainnya.

Di saat sepeti itu kadang saya berpikir, mungkin cita-cita saya untuk dapat menjadi teman yang baik terlalu muluk. Cukup menjadi teman yang tidak menyebalkan saja mungkin itu sudah cukup.

One Cut of The Dead

One Cut of The Dead diputar di CGV dalam rangkaian festival film jepang. Film ini bisa dibilang salah satu yang paling banyak menyita perhatian. Kalau bukan karena orang-orang ngebuzz tentang betapa lucunya film ini saya juga tidak akan tertarik menonton.

Saya bahkan tidak menduga kalau ini film komedi. Saya berusaha meyakinkan seorang kawan untuk menonton film ini. Sesuai dugaan tak seorang pun kawan saya yang tertarik. Sampai akhirnya harus menjamin tiket gratis untuk kawan saya kalau ternyata film ini tidak lucu.

one-cut-to-the-dead-1-wikipedia_ratio-16x9
Poster yang diambil dari Tirto

“Kamu nonton aja belum tapi bisa yakin banget kalau film ini lucu gimana sih? Trailernya aja nggak menarik. Mending nonton Aquaman.”

Dalam benak saya sosok Aquaman itu serupa Pepsiman. Ternyata berbeza.

Saya bilang sama kawan saya, “Sabar ya. Kabarnya tiga puluh menit pertama akan membosankan.”

Lima belas menit kemudian.
“Ini saya disuruh nonton gratis aja kayaknya males deh.”

Kawan saya betulan ingin pergi dari studio setelah kurang lebih lima belas menit. Saya mohon dia untuk bersabar. Adegan tiga puluh menit pertama selesai. Kami sempat mengira film berakhir. Kami salah. Semuanya baru dimulai.

Long story short film selesai. Saya tanya kepada dia pendapatnya tentang film ini.

“The best. Anying, hahaha!”

Kami pun pulang dengan perasaan terhibur.

Blog Baru (Lagi)

Akhirnya saya membuat blog baru lagi. Entah ini blog yang ke berapa. Sebelumnya saya membuat blog pribadi dengan domain .id dan web hosting yang saya sewa per tahun. Terlihat lebih niat, tapi kemudian saya memutuskan tidak memperpanjang biaya sewa. Saya pelit.

Sebelumnya lagi saya membuat blog di tumblr. Tulisan saya di sana tidak terlalu banyak, namun boleh jadi blog itu yang paling lama saya maintain. Sampai suatu ketika Kominfo memutuskan untuk menutup akses terhadap platform tersebut, seketika hasrat saya untuk menulis di sana menghilang. Karena menggunakan VPN bagi saya cukup merepotkan.

Memulai blog baru berarti memulai lembaran baru. Kali ini saya berniat untuk lebih rajin menulis. Tulisannya tidak akan panjang. Tidak juga penting. Asal menulis saja begitu. Bagi yang ingin baca dipersilakan kalau tidak juga tak apa-apa. Selamat berpetualang.