Masjid Salman

Beberapa waktu lalu saya sempat lihat tweet dari siapa saya lupa. Isinya kurang lebih begini: “Jangan dekat-dekat dengan Masjid Salman, karena Masjid Salman adalah salah satu pusat penyebaran radikalisme”. Mungkin tidak persis begitu, tapi paling tidak itu yang saya tangkap ketika membaca tweet tersebut.

Saya kurang setuju dengan tweet tersebut, tapi saya tidak melakukan apa-apa, tidak me-reply ataupun me-retweet. Ketidaksetujuan saya hanya di dalam hati. Selang beberapa waktu kemudian saya memutuskan untuk menulis tulisan ini.

Saya mulai mengenal lingkungan Masjid Salman sekitar tahun 2010, waktu itu saya magang di Jalan Skanda. Selama magang saya kadang makan siang di kantin yang ada di Salman, jajan juga di koperasi yang ada di situ. Tahun berikutnya, kalau sedang bepergian ke daerah Bandung Utara, saya kadang mampir ke Masjid Salman untuk numpang sholat.

2012, saya mulai berkuliah di Kampus yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Salman. Saya hampir setiap hari mampir ke sana. Kali ini bukan hanya untuk numpang sholat, tapi juga numpang minum air teh atau kopi gratis, mengisi botol minum. Tidak jarang saya datang ke sana hanya untuk menumpang tidur, belajar, atau bahkan mengerjakan tugas.

Menurut saya Masjid ini adalah tempat yang sangat mulia, tak ada yang salah dengannya. Jika kemudian ada yang melakukan aktivitas radikalisme atau apapun yang dianggap berbahaya di tempat itu. Saya rasa Masjid Salman tidak lantas menjadi sebuah tempat yang menanggung kesalahan tersebut. Buat saya pribadi, Masjid Salman bisa dibilang sumber kehidupan yang mengizinkan siapa saja untuk datang singgah beristirahat, makan, minum, beribadah, berdo’a, dan melakukan banyak aktivitas lain demi kelangsungan kehidupan.

Catatan Wali Kolam

Suatu hari saya pernah mengangkat diri saya menjadi seorang Wali Kolam. Wilayahnya mungkin seluas 1 x 2 meter persegi. Saya lupa persisnya. Warganya ada banyak. Sepuluh ekor kalau tidak salah. Mungkin lebih, mungkin kurang, mungkin pas.

Dari sekian banyak warga, yang paling saya ingat adalah si Deni. Deni Si Manusia Ikan Padahal Ikan. Yang lain ada si Rob, si Bor, si Brad, si Del, sudah sisanya saya lupa. Habis tidak ada Dinas Pencatatan Sipil di kolam tersebut.

Suatu hari pemilik kolam yang sebenarnya ingin meratakan kolam dengan tanah. Saya tidak bisa menolak hal tersebut. Apa daya meski status saya seorang Wali Kolam, sebetulnya saya masih numpang makan di rumah yang empunya kolam. Maka saya pun menyampaikan salam perpisahan kepada para warga kolam. Saya senang karena semua warga begitu tegar. Tak seekor pun dari mereka yang kedapatan meneteskan air mata.

Saya sampaikan kepada para warga kolam bahwasanya nanti siang akan dilakukan evakuasi. Sebagian atau bahkan seluruh warga akan dipindahkan ke ember.  Warga tak perlu panik, karena nanti di dalam ember akan tetap ada air untuk mereka berenang sementara.

Konon katanya, sang pemilik kolam akan membagi-bagikan warga kolam ke tetangga atau rekan kantornya. Setelah kolam benar-benar kosong, maka akan dilakukan proses perombakan kolam sehingga rata dengan tanah.

Saya agak merasa sedikit bersalah karena waktu evakuasi dilakukan saya sedang kuliah. Sepulang dari kampus saya mendapati area kolam sudah rata menjadi tanah dan siap dipasangi ubin. Karir saya sebagai Wali Kolam pun berakhir.

Sampai hari ini saya tidak pernah bertemu lagi dengan warga saya. Saya bahkan tak benar-benar tahu mereka ada di mana, sudah menikah dan punya anak, atau mati terhormat masuk penggorengan. Kadang saya masih suka berdiri di area bekas kolam. Mengenang indahnya masa-masa menjadi penguasa. Masa-masa indah di mana saya punya warga yang selalu ada setiap saya ingin pidato.

Karena saya tidak sempat mengabadikan foto penampakan kolam yang saya maksud, maka saya berikan gambaran kolam ikan dari tempati lain.

apakah-kolam-koi-perlu-arus
Saya belum ijin sama si Bapak yang ada di foto. Fotonya ambil dari sini.

 

Your Name (2016)

Ini pertama kalinya untuk saya menonton karya Makoto Shinkai. Sebetulnya saya terlambat karena baru nonton film Your Name (Kimi no Na Wa) di tahun 2019, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Sebelumnya saya sudah lebih dulu terbiasa menikmati kartun dari Studio Ghibli, namun menyaksikan film ini memberikan pengalaman yang baru bagi saya.

your_name_poster
Poster film yang diambil dari wiki.

Saya tidak tahu persis film ini diperuntukan untuk usia berapa, mungkin remaja. Menyuguhkan drama yang diceritakan secara unik. Tidak berlebihan namun tetap bisa membuat penontonnya ikut geregetan. Selain itu visual dari film ini juga sangat cantik membuat penonton betah melihat ke layar dari awal sampai akhir.

Dua poin tadi saja untuk saya sudah cukup untuk bilang film ini bagus. Jika film dari studio Ghibli biasanya selalu membawa pesan-pesan besar yang dikemas sedemekian rupa sehingga bisa dikonsumsi semua kalangan. Film ini nampaknya tidak berusaha melakukan hal itu (yang saya tangkap dari hasil browsing di internet sih begitu). Sepertinya Your Name dibuat lebih karena pembuatnya ingin menampilkan keindahan dan kecantikan. Baik itu dari segi cerita maupun visual. Pada akhirnya saya sebagai penonton bisa sangat menikmati film ini tanpa perlu banyak berpikir. Akhir kata saya merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh kalian yang membaca post ini. Kalau sudah menonton dan ingin berkomentar boleh tulis di kolom komentar. 🙂

Merekam Percakapan

Bila sebagian orang mengabadikan momen dengan mengambil foto atau video, lain halnya dengan saya. Saya lebih suka mengabadikan momen dengan merekam percakapan. Jadi outputnya sama sekali bukan visual, melainkan hanya audio saja.

Kenapa saya lebih suka merekam percakapan dibandingkan mengambil foto atau video? Ada beberapa alasan terkait hal ini. Salah satunya mungkin saya belum berdamai dengan penampilan sendiri. Saya selalu canggung dan bingung ketika harus berpose di depan kamera. Baik itu untuk foto, video, atau bahkan boomerang.

Alasan lain adalah karena saya orang yang suka bicara. Seperti netizen pada umumnya saya suka sekali beropini dan mengomentari hal-hal yang terjadi di sekitar. Meski sebetulnya agak kaget juga ketika mendengar suara sendiri dari hasil rekaman kok terdengar begitu cempreng.

Hasil rekaman dari percakapan ini sebagian saya simpan di akun soundcloud. Ada dua akun yang pertama https://soundcloud.com/vvulung itu akun pribadi yang isinya obrolan saya dan teman-teman. Sementara yang satu lagi adalah https://soundcloud.com/lewat-djam-malam. Ceritanya saya dan Uli membuat project iseng-iseng dengan tujuan panjat sosyel. Haha.

MADE : Menjadi Android Developer Expert

Pertama kalinya dalam hidup saya mendapatkan sertifikat dari kursus online berbayar. Tidak seperti kebanyakan kursus online yang pernah ambil sebelumnya yang berbahasa Inggris, kursus online yang satu ini menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Sangat mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Saya memutuskan untuk mengambil kelas MADE, kependekan untuk Menjadi Android Developer Expert. Batas waktu pengerjaan untuk menyelesaikan kelas ini adalah 100 hari. Saya percaya diri bisa menyelesaikannya dalam 50 hari. Nyatanya tidak.

Biaya kelasnya sendiri sekitar 2 juta rupiah. Bisa dicicil empat kali, sungguh pengertian. Awalnya kelas ini terasa mudah. Namun kesulitannya meningkat memasuki materi-materi akhir. Saya sempat takut tidak bisa menyelesaikannya sebelum tenggat waktu. Kalau sampai didrop-out kan lumayan, jadi hangus 2 juta rupiah yang sudah diinvestasikan.

Hari ke 90 saya baru bisa menyelesaikan semua materi dan tugasnya. Setelah submission untuk tugas terakhir saya sempat ditolak tiga kali. Bagian paling menarik dari mengambil kelas di Dicoding adalah karena akhirnya ada yang bersedia mereview code saya. Memberikan masukan dan membuat kita menjadi programmer yang lebih baik. Terlepas dari ketidaksempurnaan kursus online ini, secara umum saya merasa cukup puas. Terima kasih Dicoding.

Kaya Raya

Sudah lebih dari dua tahun sejak saya lulus kuliah. Saya masih belum mampu beli Rubicon. Dulu saya pikir kalau jadi sekolah sarjana, begitu dapat gelar besoknya bisa langsung kaya. Ternyata tidak. Ijazah S1 tidak sama dengan SK PNS yang bisa digadaikan jadi uang ratusan juta.

Setelah lulus tanggung jawab meningkat. Harus cari penghasilan sendiri. Cara paling gampang adalah dengan bekerja. Bekerja memang benar membuat saya mendapatkan uang, tapi tidak lantas kaya raya. Uang hasil dari bekerja cukup untuk membayar kebutuhan bulanan dan menciptakan sedikit tabungan.

Begitulah kehidupan. Saya tahu bekerja tidak membuat cepat kaya raya. Saya belum ada pilihan lain. Sementara setiap hari saya menjalani hari-hari yang monoton dengan pergi ke tempat kerja sambil tetap membayangkan suatu hari bisa jadi kaya raya. Sungguh hidup menjadi orang dewasa membuat saya menjadi orang yang matrealistis.

(Kif) Kastana Taklukan Jakarta

Sebuah cerita petualangan tentang wartawan bernama Kif di Ibu Kota. Buku ini ditulis oleh Kang Soleh Solihun. Sayang sekali buku ini sepertinya kurang populer alias kurang laku. Padahal menurut saya buku ini menarik. Saya rasa sebagian cerita di novel ini bahkan benar-benar terjadi. Hanya nama tokohnya saja yang disamarkan.

Di sini Kastana bercerita tentang kenapa dia lama sekali berkuliah. Profesi apa yang ia kejar selepas dari kampus Padjajaran, yaitu wartawan musik. Sebuah profesi yang begitu spesifik, yang membawa Kif ke berbagai tempat di Indonesia bahkan di dunia. Namun pada akhirnya tidak lagi ia jalani.

img_20130615_162728
Kurang lebih seperti ini penampakan bukunya. Gambar saya pinjam dari sini

Meski tidak melibatkan konflik yang rumit dan menarik seperti keterlibatan para penyihir di dalamnya, buku ini tetap punya daya tarik tersendiri. Cara penceritaan yang cukup gamblang serta hal-hal sederhana tentang kehidupan sehar-hari yang relatable adalah hal yang membuat buku ini menarik sebagai bacaan ringan.

Kalau Anda tertarik membaca tapi sudah tidak menemukan buku ini di toko. Ada alternatif lain untuk tetap dapat membacanya, yaitu via Google Play Books.

 

Menulis

Saya mulai berpikir untuk menulis fiksi ketika sedang menunggu pengumuman hasil Ujian Akhir Nasional. Saat itu saya berpikir menulis adalah perkara mudah. Saya juga berpikir bahwa seseorang bisa kaya raya dari menulis. Saat itu umur saya baru 14 tahun. Betapa sok tahunya saya saat itu.

Lebih dari sepuluh tahun berlalu. Saya belum pernah menerbitkan satu pun buku fiksi. Saya pernah beberapa kali menulis artikel untuk koran lokal. Pernah juga menulis cerpen untuk sebuah proyek kompilasi cerpen. Sudah hanya itu.

Entah kenapa keinginan saya untuk menjadi penulis tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan ketika sekarang saya sudah kerja kantoran dan mengetahui fakta bahwa menjadi penulis adalah profesi yang tidak bisa menghidupi saya tetap ingin mencoba menulis.

Lewat blog ini saya coba melampiaskan hasrat menulis saya sekaligus berlatih agar dapat menulis dengan lebih baik. Pembaca yang budiman, bila Anda kebetulan membaca blog saya jangan ragu untuk meninggalkan komentar. Hal itu mungkin bisa memenuhi dahaga saya yang haus akan pengakuan. Hatur nuhun.

Air Susu

Setelah melalui kajian yang cukup panjang dan tidak jelas. Saya dan Midum setuju. Panggilan untuk orang tua perempuan yang paling bagus itu adalah Ibu. Ibu adalah yang membuat ASI tetap menjadi ASI.

Coba saja ganti panggilan Ibu dengan yang lain. Saya yakin ASI tak lagi akan jadi ASI. Misal kita ganti panggilan Ibu menjadi Bunda. Seketika ASI akan berubah menjadi Asbun. Terdengar begitu sotoy.

Ganti panggilan Ibu dengan Mama. ASI akan berubah menjadi Asma. Bisa-bisa yang minum langsung bengek.

Ganti panggilan Ibu dengan Emak. ASI berubah menjadi Asem. Seketika berubah menjadi susu basi.

Paling berbahaya. Ganti panggilan Ibu dengan Umi, maka ASI akan berubah menjadi ASU. Gukgukguk. Kan anjing ya?

Create your website with WordPress.com
Get started